Cerita dari Gunung Muria

Gunung yang terletak di Kabupaten Kudus Jawa Tengah ini menyimpan banyak cerita, selain eksotika alamnya. Banyak para wisatawan tersedot ke sana, untuk berziarah, atau menikmati pemandangan alam.

Dewi Cholidatul

“Podho gulangen ing kalbu ing sasmito amrih lantip
Aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti
Pasunen sarironiro sudanen dhahar lan guling,..”

Senandung tembang Kinanti sayup-sayup terdengar dari air terjun Montel, Kudus, Jawa Tengah. Suara gamelan yang mengiringinya berpagut dengan kecipak air yang terjun dari atas.

Sekawanan monyet ekor panjang yang biasanya cerewet, kini hanya duduk di salah satu dahan pepohonan jati. Seolah ikut bertafakur. Memaknai tembang jawa karangan Raden Umar Said, Sunan Muria.

Tembang berbahasa jawa tersebut mengandung pesan dan ajaran moral hidup Sunan Muria. Tembang Kinanti merupakan ajakan melatih diri dan hati. Tembang tersebut berarti, “Latihlah diri dan hati, meraih wahyu atau ilham agar cerdas, jangan cuma bermalas-malasan, kecakapan harus dimiliki, siapkan jiwa dan raga, kurangilah makan dan tidur.”

Tembang yang digunakan sang sunan untuk menyiarkan agama Islam pada abad ke-14 ini biasanya dilantunkan dengan musik gamelan untuk mengiringi kedatangan gunungan ketupat, lepet, dan hasil bumi, dalam acara perayaan Barikan, di Makam Sunan Muria.

Tradisi yang dikembangkan oleh Sunan Muria ini dengan cara mengirim ketupat dan lepet kepada sanak saudara dan tetangga. Biasanya digelar seminggu setelah lebaran. Secara filosofi, Kedua makanan tersebut merupakan makanan yang berbungkus janur. Janur merupakan sanepa dari jan-jane nur yang berarti sesungguhnya cahaya. Adapun ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa berasal dari “ngaku lepat” (mengaku salah). Ketupat itu merupakan simbol permintaan maaf.

Dalam berbagai catatan sejarah, putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh ini memilih jalan sepi dalam menyiarkan agama islam. Ia memilih meninggalkan ingar-bingar istana dan lebih banyak bergaul dengan rakyat jelata di pantai utara Jawa, mulai dari Jepara, Tayu, Pati, Juana, Kudus, hingga ke lereng-lereng gunung Muria. Hanya sesekali ia mendatangi Kesultanan Deman, demi mendamaikan konflik internal yang sering terjadi.

Selain menyebar agama, Sang Sunan gemar sekali mengajarkan berbagai keterampilan hidup untuk menopang perekonomian masyarakat. Bercocok tanam, berdagang dan melaut. Ia pun mempertahankan beberapa kebudayaan yang dinilai tak bertentangan dengan syiar agama, seperti kesenian gamelan dan wayang.

Berbagai jasa dan ketenaran nama Sunan Muria membuat gunung tersebut banyak dikunjungi oleh para wisatawan, terutama untuk berwisata religi, berziarah ke makam sang Sunan. Apalagi, eksotika gunung purba ini dipercantik dengan keberadaan beberapa air terjun. Selain air terjun Monthel, tempat ini juga terdapat Air Terjun Tiga Rasa yang memiliki sumber mata air dengan rasa berlainan. Juga terdapat air terjun Ginggomino, Santi, Grenjengan Sewu, Songgo Langit dan Jurang Nganten.

Kawasan ini juga memiliki beberapa puncak gunung seperti Abiyoso, Argowiloso, Songolikur dan Argojembangan, yang banyak didatangi para pecinta wisata hiking dan camping. Belum lagi adanya Museum Gong Perdamaian Dunia, Situs Pusat Bumi, Candi Angin dan Candi Bubran yang turut menambah daya tarik kawasan tersebut.

Daya tarik ini karena Gunung Muria ditopang dengan berbagai kekayaan hayati yang masih melingkupinya. Tanahnya yang subur banyak ditumbuhi berbagai macam tumbuhan mulai dari Aren, Bendo, Dadap, Eukaliptus, Gintungan, Ingas, Jati, berbagai macam anggrek dan tetumbuhan lainnya. Sejumlah satwa dilindungi pun masih kerap terlihat di kawasan ini, seperti kijang, macan tutul dan monyet ekor panjang.

Sejarah gunung Muria sendiri diperkirakan berusia tidak terlalu tua dibandingkan gunung-gunung lainnya. Gunung ini baru terbentuk sekitar 1 juta hingga 10.000 tahun sebelum Masehi.

Sejumlah ahli memperkirakan gunung ini dulunya merupakan sebuah pulau vulkanik yang terpisah dari daratan pulau Jawa. Dalam kurun 500–1000 tahun terakhir, pulau Muria ini kemudian menyatu dengan pulau Jawa akibat sedimentasi dan subduksi lempeng. Dugaan ini diperkuat catatan HJ De Graaf dan Th G Pigeaud dalam bukunya berjudul Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram, 1985.

Banyak ahli menganggap status gunung ini sebagai gunung api yang masih tidur (dormant). Ia diperkirakan terakhir kali meletus antara tahun 300 Masehi – 160 Sebelum Masehi. “Dalam waktu dekat tidak akan meletus,” kata seorang peneliti Geologi ITB, Prihadi, dalam “Volcanic Hazard Analysis for Proposed Nuclear Power Plant Siting in Central Java, Indonesia”.

Leave a Reply

Top