Saat Macan Tutul Menghadap Sakaratul Maut

Sempitnya ruang gerak serta sulitnya memperoleh makanan di alam liar, membuat si Macan Tutul Jawa “mencuri” ternak warga di perbatasan Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat. Kehidupan satwa dilindungi ini berakhir di tangan setetes racun. 

Dewi Cholidatul

Seekor kucing hutan tertatih berjalan di perbatasan Suaka Margasatwa Cikepuh dengan perkampungan warga Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Corak tubuhnya yang bertotol-totol hitam dengan warna tubuh dominan kuning kecokelatan semakin memperlihatkan perutnya yang langsing.

Ini bukan kabar baik, baginya. Satwa bernama latin Panthera pardus melas itu tak sedang mengikuti program diet. Telah tiga hari si Macan Tutul Jawa itu berjalan, menyusuri Taman Nasional Gunung hingga ke Suaka Margasatwa Cikepuh. Tapi tak ada mangsa yang berhasil ditemuinya.

Perutnya yang keroncongan memaksanya turun ke perkampungan warga. Beberapa rekannya mengabarkan berhasil mekan satu atau dua ternak yang dipelihara. Rasa lapar yang melanda, membuatnya tak sempat mencium keanehan rasa ternak yang diterkam menjadi santapan pertamanya. Bumi seolah berputar lebih cepat dari biasanya. Kepalanya ikut berat, sebelum akhirnya matanya tak kuat terbuka lagi.

“Diduga hewan itu mati diracun warga karena kesal banyak ternaknya yang dimangsa hewan buas itu,” kata Kepala Seksi II Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Bogor, Kusmara, di Sukabumi, Jawa Barat.

Berdasar laporan yang diterimanya, satwa yang mati akibat diracun tersebut berjumlah dua ekor. Keduanya keluar dari kawasan konservasi dan masuk ke permukiman warga di Kampung Cipangparang, Pasirsalam, daerah perbatasan Desa Nanggela dengan Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud.

Namun hingga kini petugas mengaku belum menemukan bangkai macan tutul tersebut.

Salah satu subspesies dari macan tutul ini hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa. Satwa identitas Jawa Barat ini berukuran paling kecil, dibandingkan jenis lainnya. Panjang tubuh berkisar antara satu hingga satu setengah meter, dengan tinggi setengah hingga satu meter. Sementara bobot tubuhnya berkisar 40–60 kg.

Indra penglihatan dan penciumannya tekenal sangat tajam, sehingga sangat peka terhadap keberadaan mangsa. Ia lebih aktif berburu mangsa di malam hari, memanfaatkan bulu tubuhnya yang cenderung gelap dan satwa lain yang sedang tertidur pulas.

Di alam liar, satwa karnivora ini memangsa buruannya seperti kijang, monyet ekor panjang, babi hutan, kancil dan owa jawa, landak jawa, surili dan lutung hitam. Kucing besar ini juga mampu menyeret dan membawa hasil buruannya ke atas pohon, meskipun bobot mangsa melebihi ukuran tubuhnya. Perilaku ini selain untuk menghindari kehilangan mangsa hasil buruan, juga untuk penyimpanan persediaan makanan.

Satwa dari famili Filidae ini terkenal sebagai hewan penyendiri, kecuali pada musim berbiak. Ia hidup dalam teritorial berkisar 5 – 15 km2. Ini akan ditandai dengan cakaran di batang kayu, urine maupun kotorannya. Meskipun masa hidup di alam belum banyak diketahui, tetapi di penangkaran, hewan nokturnal ini dapat hidup hingga 21-23 tahun.

Populasi terbesar satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa ini dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Meskipun di semua taman nasional di Jawa dilaporkan pernah ditemukan hewan ini, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran.

Hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta keterbatasan daerah dan populasi, membuat satu dari 9 spesies macan tutul yang ada di dunia ini diklasifikasikan sebagai satwa yang kritis punah oleh IUCN Redlist, sejak 2007. Konvensi CITES bahkan memasukkannya dalam Appendix I yang melarang perdagangannya dalam kondisi hidup ataupun mati. Sementara, pemerintah Indonesia melindunginya dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.

Taman Nasional Gunung Halimun – Salak sendiri merupakan salah satu habitat si macan tutul. Kawasan konservasi seluas 113.357 hektare ini sangat penting keberadaannya, terutama untuk melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, selain sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya.

Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi. Selain macan tutul, kawasan ini mengoleksi beberapa jenis fauna penting yang dilindungi seperti elang jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan ini juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.*

Leave a Reply

Top