Berus Mata Buaya, Si Bakau yang Memukau

Betapapun cantiknya bunga bakau jenis Bruguiera hainesii ini, tak mengurangi penurunan populasi yang terus tergerus akibat perambahan dan pengalihan fungsi hutan bakau. Statusnya kritis, menyusul berbagai aktivitas dan kebijakan yang menyudutkannya sebagai penjaga pantai dan penyeimbang ekosistem.

Dewi Cholidatul

Seekor burung raja udang diam-diam bertengger di salah satu ranting Bruguiera hainesii, yang menjadi salah satu koleksi flora Taman Nasional Manusela, Maluku Tengah. Tanpa suara, burung yang didominasi dengan warna putih dengan sedikit biru dan hitam pada sayapnya ini tak henti menatap genangan air pasang yang menjajah daratan.

Bagi si Halcyon lazuli, air pasang tertinggi ini adalah kesempatan mencari pakan dengan mudah. Saat air kembali ke laut, meninggalkan tanaman bernama lokal Berus Mata Buaya ini, ikan-ikan kecil yang tersesat akan sangat mudah terlihat. Siang ini, ia akan pesta pora.

Tanaman bakau jenis ini tumbuh dengan ketinggian mencapai 30 meter. Sementara batang berdiameter hingga 70 cm, dengan kulit berwarna coklat hingga abu-abu dan lentisel besar berwarna coklat-kekuningan dari pangkal hingga puncak.

Tanaman yang banyak ditemuki dari kawasan Asia Tenggara hingga Papua Nugini ini memiliki daun berwarna hijau. Bentunya elips hingga bulat memanjang dengan ujung daun meruncing.

Taman bakau jenis ini memiliki bunga yang sangat memukau. Bunga mungil berwarna kuning tua hingga pucat itu tumbuh pada ujung atau ketiak tangkai. Bunga tanaman ini memiliki rambut pada tepi bawah hingga bagian atas cupingnya. Sementara, mahkotanya berwarna putih dan berukuran kecil, dengan kelopak berwarna hijau pucat. Bunga-bunga itu adalah cikal-bakal buah hipokotil yang berbentuk seperti cerutu.

Umumnya, anggota keluarga Rhizophoraceae ini tumbuh di tepi hutan mangrove yang relatif kering dan hanya tergenang air laut beberapa jam sehari, yakni saat terjadi pasang tertinggi. Keberadaannya yang paling dekat dengan darat, membuat jenis ini yang paling sering menjadi sasaran empuk perambahan dan mengalihkan fungsinya. Kondisi ini semakin membuat posisinya terpojok.

Meski belum ada penelitian yang mengungkap secara detail baik persebaran maupun populasi flora ini, namun secara global, IUCN Redlist menganggapnya sebagai salah satu dari 126 tumbuhan yang sangat terancam kepunahan di Indonesia. Kondisi ini akibat semakin rusaknya daerah pesisir pantai terutama oleh aktivitas manusia, seperti pembuatan pelabuhan, peralihan fungsi hutan mangrove menjadi tempat-tempat pariwisata dan perhotelan, hingga kebun sawit.

Padahal, tanaman ini sangat berguna bagi manusia. Selain sebagai salah satu komponen hutan mangrove yang sangat berguna menahan abrasi, ia sangat bermanfaat sebagai penyeimbang ekosistem.

Hasil studi terbaru lembaga Wetlands International bersama The Nature Conservancy dan University of Cambridge menyatakan bahwa tanaman ini bermanfaat terhadap 210 juta orang yang tinggal di daerah elevasi rendah dalam radius 10 km dari bibir pantai di seluruh dunia. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa konservasi bakau dan restorasi di daerah dekat dengan permukiman warga akan memberi timbal balik berupa peningkatan hasil perikanan. Sayangnya, penduduk pesisir sering kali tak menyadari peran vital tersebut.

“Pemahaman yang lengkap tentang fungsi ekosistem dan nilainya secara sosial dan ekonomi akan meningkatkan pengelolaan mangrove serta perikanan secara berkelanjutan,” kata peneliti dari Wetlands International, Femke Tonneijck.

Hasil studi tersebut juga menyimpulkan bahwa populasi tertinggi ikan bergantung pada mangrove yang ditemukan di lokasi dengan biomassa tertinggi. Sebab, daun dan kayu dari mangrove merupakan bagian penting dari rantai makanan di laut. Produktivitas ikan juga lebih tinggi di lokasi mangrove, yang memperoleh pasokan air tawar lebih banyak daripada yang bisa disediakan sungai dan air terjun di hulu.

Selain itu, tanaman ini juga merupakan tempat pembibitan yang sempurna bagi banyak spesies karena menyediakan makanan dan tempat tinggal. Akar napasnya yang lebat menjalar sebagai tempat tumbuh tiram. Akar juga memerangkap sedimen dan menciptakan lapisan tanah lunak yang ideal untuk digali oleh hewan moluska dan krustasea. “Yang tak kalah penting, akar mangrove ibarat benteng yang memberi perlindungan terhadap serangan predator.”*

Leave a Reply

Top