Meneliti di Hutan Pendidikan

Hutan Pendidikan Kota Palangkaraya menjadi pusat belajar bagi para mahasiswa dan peneliti. Banyak flora dan fauna langka yang perlu mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut di kawasan tersebut.

Dewi Cholidatul

Seekor kelasi melompat-lompat di antara pohon ramin dan ulin yang menjulang tinggi di Hutan Pendidikan Kota Palangkaraya. Tubuhnya yang ramping dengan bulu perpaduan antara kelabu hingga kuning keemasan ini sangat lincah, seolah penghibur di gelanggang sirkus. Mata bulatnya memperhatikan beberapa mahasiswa yang tengah berjalan-jalan di bawahnya. Suaranya yang ramai seolah meminta perhatian.

Satwa bernama latin Presbytis rubicunda ini dapat ditemukan di pulau Kalimantan hingga Karimata. Ia memiliki ekor panjang dan memiliki bulu berwarna kemerahan. Wajahnya berulas kebiruan. Sementara anakannya berwarna keputih-putihan dengan bercak hitam pada bagian bawah punggung dan melintang sepanjang bahu.

Penghuni hutan primer Kalimantan ini belakangan banyak berkeliaran di perekbunan tertentu. Ia kemungkinan keluar dari habitatnya untuk memakan dedaunan muda dan biji-bijian. Menyempitnya hutan akibat kebakaran, perambahan, perburuan, perdagangan satwa liar, berkurangnya sumber pakan serta berbagai sebab lainnya menyebabkan kelestarian populasi lutung merah semakin hari semakin terancam.

Spesies primata di dalam keluarga Cercopithecidae ini menjadi salah satu warga di hutan pendidikan kota Palangkaraya. Ia termasuk salah satu satwa yang diteliti para mahasiswa ataupun akademisi yang sedang melakukan penelitian di kawasan tersebut.

Ini dilakukan karena meskipun telah berstatus dilindungi berdasarkan SK Menteri Pertanian sejak 1970 silam, namun belum banyak kajian ilmiah tentang salah satu penghuni hutan primer Kalimantan ini.

Kawasan seluas 4.910 hektar ini berbatasan dengan hutan adat ulin Mungku Baru. Ia dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.

Selain para peneliti lokal, kawasan yang baru ditetapkan sebagai hutan pendidikan sejak 2011 silam itu juga banyak didatangi oleh para peneliti mancanegara. Banyak mahasiswa luar negeri yang tertarik untuk melakukan penelitian di dalamnya. Ada dari Kanada, Spanyol, Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Australia dan lainnya.

Kawasan yang dimiliki oleh kota Palangkaraya ini dinilai cukup istimewa dengan vegetasi yang sangat beragam. Sementara ketersediaan data mengenai habitat dan flora fauna di dalamnya masih sangat minim.

Kawasan hutan pendidikan ini kaya dengan ekosistem, mulai dari lowland forest, riparian forest, rawa gambut dan kerangas. Sejumlah pohon seperti agis, keruing, jenis-jenis pohon dipterokarpa serta jelutung tumbuh subur. Keberadaannya semakin istimewa karena sejumlah pohon langka seperti ramin, ulin, dan mahambung masih berdiri tegak di kawasan ini. Bahkan, pohon alau yang dianggap sudah punah ternyata di kawasan hutan pendidikan ini masih banyak.

Satwa liar yang ada disana juga beragam. Penelitian OUTROP tahun 2010 menyatakan kawasan ini memiliki keragaman burung tertinggi di seluruh Kalimantan, yaitu sekitar 200 jenis. Selain itu, sejumlah satwa satwa endemik ikut menjadi warga kawasan ini, seperti seperti macan, kucing hutan, kelasi, bekantan, owa hingga orangutan.

“Di kawasan ini belum ada publikasi yang cukup. Hanya sedikit informasi tentang habitat dan satwa liar. Makanya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut” kata co-Director Borneo Nature Foundation, Bernat Ripoll Capilla. Organisasi ini telah lama berkecimpung dalam penelitian primata dan satwa liar lainnya.

Kawasan Hutan Pendidikan ini berfungsi untuk arboretum, konservasi flora fauna, tata guna air, silvikultur, daerah tangkapan air termasuk untuk praktek agroforestri bagi mahasiswa. Beberapa penelitian yang dilakukan di kawasan ini tidak melulu soal identifikasi flora fauna. Potensi lainnya pun terus dipantau.

Belakangan, beberapa peneliti tengah merintis survey di sepanjang kawasan daerah aliran sungai Rungan hingga Kahayan seluas 100 ribu hektar dan membentang dari Palangkaraya hingga Gunung Mas. Penelitian terutama dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi termasuk identifikasi keterancaman serta solusi bagi satwa orangutan di kawasan tersebut.

“Orangutan termasuk kelasi yang ada di sepanjang DAS Rungan-Kahayan masih luput dari perhatian publik dan masyarakat. Padahal, daerah itupun penting mendapat perhatian.”

Pengelolaan hutan ini melibatkan warga sekitar untuk pengelolaannya. Ini dilakukan agar pemelirahaannya terjaga dengan baik serta tak berkonflik secara horisontal. Ini juga berfungsi agar hutan pendidikan ini tidak ikut-ikutan dilalap api saat musim kemarau, akibat unsur kesengajaan ataupun kekeringan.

“Sekarang sudah terbentuk tim serbu api termasuk di tingkat Kecamatan. Masyarakat juga sudah tahu bahwa orangutan dan burung-burung itu dilindungi. Masyarakat disini juga ikut menjaga satwa-satwa itu,” kata Armadiyanto, salah satu warga setempat yang mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Muhamadiyah Palangkaraya.

Untuk menyokong perekonomian warga sekitar, masyarakat diperbolehkan mengambil hasil hutan bukan kayu seperti damar, rotan, tanaman obat dan lainnya. Selain itu, sistem tumpang sari di dalam kawasan hutan pendidikan juga dilakukan. Masyarakat diberi akses menanam di area lahan yang rusak.

“Berdasarkan survey, terdapat sekitar 200 hektar lahan yang ditargetkan sebagai zona agrofestri yang dapat dikelola masyarakat. Masyarakat dapat memanfaatkan lahan tanpa perlu lagi menebang pohon yang ada,” kata Dekan Fakultas Pertanian dan Kehutanan UMP, Siti Maimunah.

Leave a Reply

Top