Menjaga Karst di Bantimurung

Seekor kupu-kupu hinggap di bebatuan karst di Maros, yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Sayapnya tak melulu legam. Gurat-gurat warna putih dan sejumput warna kuning turut andil memberi keindahan. Ia adalah seekor

Sejenak kemudian satwa bernama latin Troides Haliphron Boisduval itu pun berlalu dari pegunungan kapur itu, mencari jalan pulang. Tampaknya ia terlepas dari kerajaannya, tak jauh dari tempat itu.

Eksotisme bebatuan karst di kawasan Taman Nasional tersebut banyak dibahas, belakangan ini. Ia disebut-sebut sebagai “Spectacular Tower Karst”, karena menjadi pegunungan karst terluas kedua di dunia, setelah China dan Vietnam. Keelokan ini bahkan memanggil pmerintah pusat untuk menetapkan Taman Nasional seluas 45 ribu hektare ini menjadi destinasi ekowisata karst dunia.

Kawasan ini memiliki 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Empat belas diantaranya merupakan gua vertikal kedalaman lebih dari 100 meter, seperti Leang Pute sedalam 263 meter dan gua Salukang-Kallang sepanjang 12.463 meter. Kawasan ini bahkan mempunyai jumlah spesies terbanyak di kawasan tropis di dunia.

“Karst punya kekhasan dan tidak boleh diganggu karena menyimpan air,” kata Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Sahdin Zunaidi. Bahkan cadangan karbon dari vegetasi yang ada di kawasan ini mencapai 74,29-244,82 ton per hektare.

Indonesia sendiri tercatat memiliki 145.000.000 km2 wilayah yang terbentuk karena proses pelarutan batugamping atau dolomiteoleh air ini. “Ia tersebar dari Sumatera sampai Papua,” kata Clements dalam bukunya yang terbit pada 2006.

Sayangnya, hanya 5 persen dari keseluruhan kawasan yang membentuk gua-gua ini yang dilindungi. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan seiring semakin masifnya industri ekstraktif untuk kebutuhan pabrik semen, sehingga banyak menimbulkan konflik di tingkat bawah.

Hasil penelitian menyebutkan sekitar 9 persen lebih dari total luas karst di Indonesia rusak akibat ditambang secara sporadis. “Persoalan utama pengelolaan karst muncul dari konsekuensi desentralisasi kewenangan, terutama kewenangan perizinan pertambangan batu gamping,” kata Ketua Asia Union of Speleology (AUS), Eko Haryono.

Dampak penambangan ini hampir mustahil untuk dipulihkan karena hilangnya kemampuan dan kapasitas karst sebagai penyerap dan penyimpan air. Hasil kajian laju resap air (infiltrasi) menunjukkan lokasi yang ditambang dan yang telah direklamasi kehilangan kemampuan menyerap air lebih dari 75 persen dibandingkan karst yang belum ditambang. Sedangkan karst yang sudah ditambang dan belum direklamasi hampir 99 persen hilang kemampuan air meresap.

“Kehilangan kemampuan resapan ini menyebabkan risiko berkurangnya pasokan air ke sistem celah rekahan yang tidak hanya berpengaruh pada manusia tapi kehidupan biota yang ada di dalamnya,” kata tulis Djakamihardja dan Muhtadi, dua peneliti yang melakukan kajian tersebut.

Belum adanya peraturan perundangan soal operasionalisasi konservasi bentang alam di Indonesia turut menyumbang kerentanan lawasam karst. Peraturan yang ada, lebih mengatur konservasi biodiversitas dan budaya.

Penyebab lain menyusutnya kawasan kaya manfaat ini adalah perubahan iklim yang tak bisa dihindari oleh siapapun. Ancaman ini tak terkecuali terhadap ekosistem Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Kawasan ini mulai dibayangi bencana banjir, angin puting beliung dan kekeringan, setiap tahun.

“Kami menemukan bahwa desa-desa sekitar karst di Kabupaten Maros, mulai terdapat ancaman kekeringan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Ini sudah seringkali kami sampaikan agar hati-hati dengan tambang,” kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Universitas Hasanuddin, Roland A. Barkey.

Upaya pelestarian karst, penting dilakukan. Ia berfungsi sebagai kantong penyimpan cadangan air bersih, terutama dari sungai-sungai bawah tanah mengalir di kegelapan dari ukuran kecil sampai ukuran besar, sekaligus sebagai habitat berbagai spesies biota.

Karst juga berfungsi sebagai daerah serapan karbon. Bentang alam karst dinilai mampu menyerap karbon yang mencemari udara hingga 13,482 giga gram per tahun.

Selain itu, kawasan karst dan gua yang terbentuk di dalamnya disebut-sebut sebagai habitat berbagai spesies flora, fauna serta mikroba, yang belum banyak digali potensinya. Di kawasan karst Maros misalnya, ditemukan beberapa spesies flora yang hidup di tebing-tebing atau mulut gua yang lembab dan mempunyai sebaran yang sangat terbatas.

“Komposisi spesies fauna yang hidup di dalam gua 95% didominasi oleh arthropoda dimana sisanya mamalia dan burung.”

Penataan pemanfaatan karst di Indonesia perlu dilakukan dengan sangat hati-hati dengan kajian selengkap mungkin. Munculnya polemik pemanfaatan menjadi indikasi penetapan beberapa kawasan karst sebagai kawasan lindung ternyata belum didukung data yang kuat.

“Sebagai contoh, setelah dilakukan kajian ternyata beberapa gua dengan sungai bawah tanah berada di dalam lokasi yang akan ditambang, atau berdekatan dengan lokasi tambang sehingga berpotensi untuk memotong aliran sungai ke mata airnya seperti yang ditemukan di Karst Gombong,” kata Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Cahyo Rahmadi.

Selain keindahan karst, kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga mengoleksi keanekaragaman flora dan fauna yang unik dan mempesona. Hal ini dikarenakan taman nasional ini terletak di peralihan antara zona Asia dengan zona Australia. Beberapa binatang yang menjadi kekhasan lokasi ini adalah Kupu-Kupu, Kumbang, Musang Sulawesi, Kera Hitam Sulawesi, Kuskus, Tarsius, dan berbagai jenis burung.

“Karena kelimpahannya, Taman Nasional ini bahkan diberi julukan The Kingdom of Butterfly oleh Alfred Russel Wallace” jelas peneliti lainnya, Sri Winenang.*

Top